Ratusan roda mondar-mandir berisik
Lambat cepat satu laju dua arah
Ada yang pergi
Ada yang pulang
Tak nyaman bersantai ria disekitarnya
Keadaan sedikit memaksa goyahkan mental
Apa boleh buat, hanya ini satu-satunya alas
Dibawah jembatan panjang
Dari bawah dekat sungai
Manusia tak ber-etika tersedu tawa diatas kepala
Sampah dibawah kaki, kotor bau berserakan
Satu malam bagai puluhan hari
Kadang dingin, kadang panas
Tak sejuk, tak nyaman
Kapan akhir derita ini?
Adakah pria ini berkesempatan menulis hikayat
Mulai dari bibir bisu yang membiru
Hingga keningnya panas menyengat
Sandaran pun menghindar dari bahu yang layu
Wewangian menghilang dari hidung tertutup
Pemandangan enyah dalam tatap mata kantuk
Seakan-akan terus memaksa duka
Namun tahu kan hadirkan luka
Meski memang bukan hamba sahaya
Tetap saja sejatinya seorang manusia