Sabtu, 14 November 2015

Kita Yang Lalu

Karya: Muhammad Ridha Saeful Islam

Kala cahaya hilang dari purnama
Langit terbentang gulita dalam gelapnya
Matahari enggan terbit di timurnya
Dan malam tetap takkan hilang nama

Mengulas sebuah cerita yang lampau
Terlibatlah kau dan aku pada kita yang  lalu
Kala itu saling memberi rasa dan penuh percaya
Keras dunia digarap-terjang bersama

Di bumi rasanya hanya kau dan aku
Hidup tentram seperti di negeri romawi
Berpelukan di lingkungan yang bisu
Namun, apalah arti kita saat ini

Biarkanlah bumi berjalan dengan hukumnya
Kita tinggal menikmati dengan apa adanya
Sesampainya kau dan aku benar-benar mati
Percayalah kita yang lalu masih tetap berarti

Kisah kita tak sewangi bunga di kota grasse
Biar hanya kita dan Tuhan yang mencium baunya
Kisah kita tak seteladan ksatria dan pahlawan
Biar hanya kita dan Tuhan yang mengenangnya


(Bandung, 14 November 2015. )                                                                             Pukul  01:57 WIB

Kamis, 15 Oktober 2015

Di Belakang Pintu

Karya : Muhammad Ridha

Aku Diam Dibelakang Pintu
Mencium Bangkai 
Mencari Jawaban
Menemukan Kawan
Najis, Menjijikan!

Masih Dibelakang Pintu
Hanya Kisah
Mustahil Terulang
Hampir Berkarat

Dan Akulah Sang Sampah.

Keluar ...
Mentelantarkan Diri
Mengemis Rasa Manusiawi
Memohon Dikasihani.
Selamat Malam Anjing Babi ..
Bukankah kita bisa saling melengkapi daripada saling bersembunyi?


Sulit Sembunyi

Karya: Muhammad Ridha

Dimana Aku Harus Bersembunyi?
Kaki telanjang melangkah diatas bara hasrat
Bergelimang Malas
Tak Panas, Tak Dingin
Sungguh, Mati Rasa.
Ya Beginilah Hidup Seorang Gelandang,
Yang Besar Di Lingkungan Pecundang.
Meski Hidup di Bumi Tuhan, Tetap, Ini Negeri Alasan.
Rasanya Hanya Aku, Musik dan Malam.

Dimana Aku Bersembunyi?
Mungkin Disana
Mungkin Disini
Mungkin Disitu

Sialan! Tuhan Tahu Saya Dimana.

Dimana Aku?

Senyap Sunyi
Tanpa Maki
Walau Sepi
Lalu Mati

Senin, 11 Mei 2015

Tak Usah Malu

Karya : Muhammad Ridha 

Tak perlu merahkan raut muka ketika hidupmu berselimut kayu anyam
Perlulah tetap menatap kedepan meskipun licin mata
Hidup hanya butuh keyakinan atas apa yang nenekmoyang genggam
Celakalah ketika berpaling melepas kepalan tangan yang pedoman didalamnya

Suara hati takkan seirama dengan pandangan manusia lainnya,
Salah penilaian tak sedikitpun membenarkan.

Iri nafsu akan kilauan kemegahan,
Percayalah! kan busuk di akhir nanti.

Bernaunglah pada atap walaupun air masih dapat menembus dan membasahi
Ketabahan dan ikhlas hati justru yang akan memberikan perlindungan atas rintangan yang mengelilingi

Tak usah mengemis perhatian
Tak perlu menyadarkan pihak lain akan diri
Tak usah hadirkan hasud hanya untuk pamor
Tak perlu menilai dan memaki

Karena pada dasarnya kesederhanaanlah yang melahirkan bahagia.
Lihatlah pribadi yang memberi amanah menggenggam erat petunjuk hidup.
Tuhan kan selalu memberi ujian pada lemahnya genggaman itu
Kekuatan hakiki muncul dari keberhasilan menyelesaikan tempuh langkahmu atas ujian itu

Selasa, 14 April 2015

Asa Yang Surut

Karya : Muhammad Ridha

Ratusan roda mondar-mandir berisik
Lambat cepat satu laju dua arah
Ada yang pergi
Ada yang pulang

Tak nyaman bersantai ria disekitarnya
Keadaan sedikit memaksa goyahkan mental
Apa boleh buat, hanya ini satu-satunya alas
Dibawah jembatan panjang
Dari bawah dekat sungai

Manusia tak ber-etika tersedu tawa diatas kepala
Sampah dibawah kaki, kotor bau berserakan

Satu malam bagai puluhan hari
Kadang dingin, kadang panas
Tak sejuk, tak nyaman

Kapan akhir derita ini?
Adakah pria ini berkesempatan menulis hikayat
Mulai dari bibir bisu yang membiru
Hingga keningnya panas menyengat

Sandaran pun menghindar dari bahu yang layu
Wewangian menghilang dari hidung tertutup
Pemandangan enyah dalam tatap mata kantuk

Seakan-akan terus memaksa duka
Namun tahu kan hadirkan luka
Meski memang bukan hamba sahaya
Tetap saja sejatinya seorang manusia

Kamis, 12 Maret 2015

Sepenggal Cerita Hina Masih Tersisa

Karya : Muhammad Ridha

Sepenggal cerita masih tersisa
Putus asa masih hantu dalam rasa
Gemuruh angin riuh meniup raga dan jiwa
Sampai terrhembusnya rasa kecewa menyiksa

Aku, duka lara ...
Menjadi sebuah bayangan saat ini
Roh jahat yang tak lagi suci
Hitam gemerlap merah darah
Tak lagi kenal putih maupun biru

Redup semua
Reda adanya
Hening seluruh

Tinggal anjing-anjing kotor angkuh berkeliar yang mengendus serpihan-serpihan riwayat hina
Dan diri nestapa dalam rimbanya siksa yang ada

Tak ada penikmat asap
Tak ada penghisap tembakau alam disini
Hanya surya yang tak kunjung membuka mata
Mengalir deras terbawa arus ingatan
Tersesat diruang gelap yang menakutkan
Terkunci erat tanpa bisa berontak

Sepenggal cerita hina masih tersisa luka ~


Jumat, 20 Februari 2015

Nasihat Sang Pengembara

Karya : Muhammad Ridha

Terjunkan diri, berkeliarlah!
Tempatmu di Alam liar, mengembaralah!
Dunia maya sungguh penuh angan dan tak berguna
Dimana para insan melontarkan kalimat-kalimat dusta

Nikmati perjalanan sederhanamu, bebaskan raga!
Lawan apa yang menghantuimu, lepaskan manja!
Menemukan adalah tujuanmu
Dan jati dirilah pencarianmu

Ketika semua orang menganggapmu lemah, hiraukanlah!
Berpaling dari semua caci maki, bebaskanlah!
Mereka tak mengerti apa yang kita cari
Sangatlah bodoh jika mereka hanya berdiam diri

Dayung tubuhmu siap terjang 
Kepakkan sayapmu, lompat lalu terbang
Berteriaklah sekeras-kerasnya dengan menyebut Asma Pencipta
Jiwa dan raga dalam angan ketenangan
Menyatulah dengan Alam

Senin, 26 Januari 2015

Senandung Harapan

Karya : Muhammad Ridha

Petikan dawai mengiringi langkahku
Nada nadanya menjadi gelora sebuah cinta
Bersenandung pada musim semi
Dimana semua insan ceria kala itu


Bulan menyinari senyapnya bumi
Hembusan angin pun terdengar
Pertanda malam yang sunyi


Mata yang tertutup
Memberitahu arti yang hakiki
Akan sebuah rasa
Tanpa hampa dan duka lara


Semoga nyenyak tidur mu kasih
Dengan syair ini kau ku antarkan
Ke alam imajinasi yang mustahil 

Berkunjungnya para pencuri hati

Besar harapan kau dan aku
Masuk kedalam ruang mimpi
Yang nyata dan menjadi 'kita'
Lalu bersemayam dibulan purnama
Yang tanpa adanya pancaroba


Kan kuceritakan padaNya
Sampai Dia menggenggam kau dan aku
Dalam buaian lembut kasihNya
Hingga menjadi akhir yang abadi
Aku kau dan Dia ialah 'Kita'

Minggu, 25 Januari 2015

Sang Pengembara

Karya : Muhammad Ridha

Nikmatnya asap yang dihisap

Perlahan saya hembuskan
Putih warnanya, coklat dalamnya
Terbang lalu hilang 
Menjadi gambar jiwa sang pengembara

Sesekali aku mencicipi

Secangkir kopi hangat
Yang nyaman menselimuti
Seakan memeluk erat raga dalam

Memang ini bukan sebuah jawaban

Namun hanya pelarian
Dengan harapan memberi pengertian
Arti laju jalannya kehidupan

Atas segalanya tak melupakan aku akan pengabdian

Bermunajatlah aku padaNya

" Tuhan...

Ini lah yang bisa hamba lakukan
Ketika pedih menghampiri
Ketika kecewa merasuki.

Tuhan...

Aku percaya Engkau yang memberi ketenangan
Panjatan syukur ini kepadaMu
Aku yakin engkau Maha dari segalanya
Panjatan puji ini hanya milikMu

Yaa Allah Yaa Rabbul Izzati... 

Astaghfirullah
Mohon ampunan serta kasihMu

Yaa Allah Yaa Ilahi...

Alhamdulillah
Terima kasih atas rahmat serta nikmatMu "

Tak lupa aku akhiri

Dengan mencurahkan salam sejahtera
Kepada kekasih sang Maha Suci
Muhammad, baginda nabi yang sangat mulia.


Sabtu, 24 Januari 2015

Bisikan langit-Nya




Karya : Muhammad Ridha

Tak henti hentinya hujan dan angin bermain bersama dilangit, diudara dan dibumi.
'Duaaarrr' jendela rumah pun ku buka, lalu ku tengok tak ada apapun diluar sana, hanya saja ada banyak air yang menetes dan sepoyan angin yang kencang tak biasanya. "Duaarrr" 'mamah sieun aya guludug'1 terdengar, badanku terkulai lemas, menggigil ketakutan 'Ada apa ini? Suara dari Tuhan dan ciptaanNya itu terdengar sangat nyaring terngiang ditelingaku' lalu setelah itu, seketika pun suasana mulai hening, matahari bersinar indah mempesona, burung bernyanyi mengikuti irama suasana. Kemudian ada bisikan yang kurasa tapi tak terdengar atau mungkin jawaban dari semuanya "Rek ibadah moal!"2

* Bahasa Sunda:
1. 'Ibu takut ada halilintar'
2. 'Mau ibadah atau tidak!'